Saturday , December 16 2017
Home / DPR RI / Kang Jalal Tegaskan Alasannya Masuk ke Senayan
foto: icrp-online.org
foto: icrp-online.org

Kang Jalal Tegaskan Alasannya Masuk ke Senayan

JAKARTA, ICRP – Di tanah air, prinsip kebhinekaan yang sejatinya sudah dicanangkan oleh para pendiri bangsa masih menyisakan banyak pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan. Meski secara konstitusional Indonesia berprinsip melindungi segenap warga negaranya, namun terang semakin kuat semangat menentang keberagaman  dewasa ini di tengah-tengah masyarakat.

Anggota DPR RI Komisi VIII dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Jalaluddin Rakhmat menyesalkan masih adanya sebagian masyarakat di Indonesia yang belum menerima kebhinekaan. Demikian disampaikan  Jalaluddin Rakhmat dalam acara diskusi “Politik Kebhinekaan di Indonesia : Tantangan dan Harapan” yang diselenggarakan Maarif Institute, Selasa, (13/1) di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah.

“Kebhinekaan yang merupakan sunnatullah belum menjadi jati diri dan sikap hidup banyak orang. yang lebih ironis sikap hidup yang menjunjung sektarianisme dan intoleransi justru banyak dijadikan acuan dan pegangan,” imbuh Jalaludin Rakhmat.

Bahkan, tokoh Syiah di tanah air ini menduga pandangan anti keberagaman telah masuk hingga para pembuat kebijakan di senayan. “Di Senayan ada salah seorang politisi dari fraksi tertentu yang dipindahkan ke komisi VIII hanya untuk menggempur saya karena saya Syiah,” ucap sosok yang akrab dipanggil Kang Jalal ini.

Melihat kondisi seperti itu, Jalal meyakini gelombang intoleransi yang menguat di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari adanya kepentingan politik. “Konfik antar umat beragama dimanfaatkan oleh para politisi untuk mendapatkan dukungan politik,” sesal Kang Jalal.

Malam itu, Kang Jalal menegaskan alasannya untuk masuk ke kancah politik. “Saya datang ke partai dengan ideologi. Ideologi saya ialah ingin menegakan NKRI dengan semangat kebhinekaan. Lebih khusus lagi saya ingin bisa melindungi kaum minoritas yang selama ini menjadi korban kekerasan atas nama agama,” ungkap Kang Jalal.

“Jika sekiranya saya tidak bisa menjalankan alasan saya, saya akan mengundurkan diri,” tegas Kang Jalal.

Selain Jalaludin Rakhmat, Maarif Institute juga mengundang sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) Gomar Gultom dan Direktur Riset Maarif Institute, Ahmad Fuad Fanani sebagai pembicara. Namun, dalam waktu kurang dari satu jam, Gomar Gultom membatalkan kehadirannya.**

Sumber: icrp-online.org

Komentar

komentar