Saturday , December 16 2017
Home / DPR RI / MENDIAGNOSIS PEMICU KEKERASAN SEKSUAL
jalaluddin-rahmat-tokoh-syiah-indonesia-di-pdip

MENDIAGNOSIS PEMICU KEKERASAN SEKSUAL

Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc
(Anggota Badan Legislasi-Baleg F-PDI Perjuangan)

Laporan Utama Majalah Parlementaria
Edisi 138 TH. XLVI-2016 Hal. 14-15

Faktor pemicu kekerasan seksual masih menjadi perdebatan. Tapi, pelecehan dan kekerasan seksual disebabkan oleh kegagalan manusia memahami seksualitasnya.

Rapat Badan Legislasi (Baleg) baru saja usai. Banyak rancangan Undang-Undang (RUU) dibahas di dapur legislasi ini. Dan salah satu RUU yang jadi desakan publik untuk segera diselesaikan adalah RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS). Parlementaria menemui anggota Baleg PDI-Perjuangan Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat untuk membincang RUU PKS.
Kang Jalal, begitu ia biasa disapa memberi pandangan holistik soal ini.

Kegagalan manusia memahami seksualitasnya selalu luput dari banyak kupasan tentang skandal perilaku sesat seksual. Salah satu pengertian umum tentang perilaku sesat seksual adalah tindakan pelecehan dan kekerasan, baik fisik maupun psikis terhadap korban perempuan dewasa atau anak-anak. Satu hal yang perlu dimenegerti, pada dasarnya perempuan dan laki-laki secara kodrati adalah makhluk seksual. Perempuan boleh jadi didakwa sebagai objek, tetapi sebagai makhluk seksual, de facto, ia jelas punya kebutuhan yang sama dengan kaum lelaki. Yakni kebutuhan untuk memenuhi hasrat seksnya. Jadi secara umum, baik lelaki maupun perempuan sebenarnya merupakan objek dari hasrat seksualnya sendiri.

Kang Jalal meniitikberatkan pada faktor pemicu yang menjadikan seseorang melakukan penyimpangan seksual. Menurutnya, mendeteksi secara dini faktor penyebab kekerasan seksual, bisa menghentikan tindakan kekerasan seksual itu sendiri. Untuk mendeteksinya, Kang Jalal menyarankan agar dilakukan penelitian secara serius, sehingga semua masalah teratasi secara lebih teratur.” Mestinya ada sebuah research yang akurat tentang provokator-provokator yang menyebabkan adanya kekerasan seksual. Itulah yang harus dihambat. Yang saya maksud provokator itu bukan hanya orang, tapi unsur-unsur faktor-faktor yang memudahkan tindakan kekerasan”, jelasnya.

Menurut Kang Jalal, yang juga jadi masalah adalah gabungan antara seksualitas dan agresivitas pelaku. Dia menilai, bukan hanya nafsu seksualnya yang berlebihan, tapi juga kecenderungan untuk melakukan secara agresif. Nafsu seksual yang berlebihan seharusnya bisa dikanalisasi dengan cara yang tidak menimbulkan kekerasan.” Garis bawahnya adalah tindakan kekerasan seksual. Bisa saja nafsu yang berlebih-lebihan disalurkan sehingga melakukan tindakan kekerasan,”ungkap politisi dari Dapil Jawa Barat II ini. Faktor situasi ekonomi, sambung Kang Jalal, bisa juga menjadi pemicu timbulnya hasrat tak terkendali itu. Kemiskinan bisa menimbulkan perasaan marah atau tindakan kasaar akibat kekecewaan yang kemudian dilampiaskan kepada orang lain.

“Misalnya orang yang mengalami frustasi, kemudian dia tidak juga bisa melakukan hubungan seksual. Frustasinya itu akan mengakibatkan tindakan kekerasan seksual. Contoh kasus yang terjadi di Tangerang. Menurut saya, itu mengalami gangguan mental karena frustasi. Orang kalau frustasi dia agresif,” ungkap pakar komunikasi itu. Masih banyak faktor pemicu lainnya yang menyebabkan kekerasan seksual.

Sementara mengomentari Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Kang Jalal menilai, sanksi tambahan berupa kebiri kimiawi terlalu berlebihan jika diterapkan. Saat yang sama, DPR RI sendiri sedang membahas RUU PKS. Butuh waktu panjang sampai RUU ini disahkan.

Namun, tutur mantan Kepala SMA (Plus) Muthahhari Bandung ini, untuk sementara waktu Perppu sudah cukup untuk menanggani darurat kekerasan seksual, walaupun masih menyisahkan isu kontroversial seperti kebiri. Hukuman kebiri tidak sepenuhnya bisa mencegah terjadinya kekerasan seksual.” Pengebirian tidak akan memberikan efek jera kepada yang lain. Mungkin hanya untuk pelaku, karena dia tidak bisa melakukannya lagi.”

Dalam pandangan Kang Jalal, pendidikan seksual bisa jadi salah satu cara mendiagnosis perkara nista ini. Pendidikan bisa memposisikan perilaku secara tepat dan sehat, serta tidak merugikan orang lain. Inilah langkah antisipatif untuk mencegah makin membabi-butanya perilaku seksual yang ngawur. Namun, karena isu seksual sangat bersinggungan dengan wilayah-wilayah yang sensitif dalam masyarakat, mulai dari soal agama, adat ketimuran, hingga pertimbangan-pertimbangan yang lebih politis sifatnya. Maka kesimpulan tersebut sulit untuk di-follow up lebih lanjut sebagai sebuah konsep yang matang untuk diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan yang ada.

Akhirnya, urusan yang penting untuk digarisbawahi disini adalah problem solving yang mendasar pada masalah ini. Perempuan dan anak yang selalu menjadi korban kekerasan seksual dengan seluruh bagian tubuhnya harus dihormati, termasuk oleh perempuan itu sendiri. Secara abstrak, barangkali anjuran menyusun konsep untuk menghindari kegagalan pemahaman manusia terhadap seksualitas bisa menjadi langkah awal mencari jalan keluar.[] [DINNO]

Komentar

komentar