Saturday , December 16 2017
Home / DPR RI / MILITAN DEMOKRASI
dpr-2

MILITAN DEMOKRASI

Pada kamis, 24 November 2016, anggota DPR RI Komisi VIII sekaligus anggota Badan Legislasi (Baleg) Bapak Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc menyampaikan paparannya yang berjudul Militant Democracy. Bagaimana demokrasi kita perkuat untuk kemajuan bangsa Indonesia?. Pertemuan ilmiah dalam bentuk seminar nasional tersebut diselenggarakan oleh Badan Keahlian DPR RI dengan tema DPR RI: Antara Kepercayaan dan Harapan Publik.

Cendekiawan Muslim yang akrab disapa Kang Jalal, menyampaikan dalam awal paparannya akan kerinduannya dalam pertemuan ilmiah seperti ini. Setelah jadi anggota DPR yang disibukkan oleh pertemuan rutinnya dengan beberapa mitra kerja DPR RI Komisi VIII.

Kang Jalal menyampaikan, bahwa untuk memperkuat kinerja DPR RI semestinya kita berikan wewenang yang luas dan gaji yang besar kepada Badan Keahlian DPR RI. Agar kinerja DPR RI bisa maksimal dan bisa memberikan dampak luas ke masyarakat. Keahlian dan pengetahuan yang memadai dari Badan Keahlian DPR RI bisa memperkuat kinerja DPR RI dalam konteks kebangsaan Indonesia. Dengan diback up oleh Badan Keahlian DPR, maka kerja-kerja anggota DPR bisa maksimal, yang bisa menumbuhkan kepercayaan publik yang selama ini sangat berharap kepada Anggota DPR RI.

MILITANT DEMOCRACY

Seperti kita ketahui, bahwa dalam alam demokrasi memberikan peluang kelompok anti-demokrasi untuk menghancurkan demokrasi. Dalam bahasa Karl Lowenstein yang diperkuat oleh pemikir Karl Popper bahwa ada musuh akrab dalam demokrasi, yang memanfaatkan peluang-peluang demokrasi untuk menghancurkan demokrasi itu sendiri. Hal tersebut yang membuat keresahan para pemikir politik dan perencana sistem pemerintahan.

Pada tahun 1930 di era Republik Weimar Jerman berdirilah satu konstitusi negara yang kemudian dikalahkan oleh NAZI dibawah komando Adolf Hitler. Konstitusi negara bisa diganti oleh kekuasaan eksekutif tanpa ada konsultasi dengan legislatif melalui apa yang kita sebut sebagai Dekrit.

Sebagaimana situasi geopolitik di negeri Paman Sam Amerika Serikat, dimana nilai-nilai tertinggi demokrasi dikalahkan, menghasilkan sosok Donald Trumph yang dalam basis hidupnya berisi fasis, intoleran dan narsis. Nilai-nilai tertinggi Amerika Serikat dipertaruhkan dan ternacam dalam bahaya besar, ungkap Kang Jalal yang pernah mengecap pendidikan di Amerika Serikat.

Filsuf Plato mengatakan bahwa perjalanan kebahagiaan demokrasi yang berjalan, diakhiri dengan mimpi buruk tirani. Kembali kita kepada siklus otokrasi, oligarki, demokrasi dan tirani. Dalam pemikiran Aristoteles, bahwa demokrasi adalah sebuah sistem pemerintahan yang paling buruk, karena didasarkan pada pemerintahan kerumunan. Dari 300 peralihan kekuasaan di dunia lebih setengahnya adalah kudeta, dan setengahnya adalah tirani. Karenanya, kita harus berhati-hati dengan isu-isu makar dan kudeta yang berhembus akhir-akhir ini di negeri tercinta kita ini.

Demokrasi memberikan peluang dan ruang kepada kelompok intoleran untuk bergerak dan berjuang menghancurkan struktur demokrasi. Karena itu, kita seyogyanya memperkuat demokrasi militan, dengan tidak memberikan angin segar kepada kelompok intoleran. Mereka adalah musuh-musuh demokrasi. Kita tidak boleh wait and see, jangan sampai kelompok teroris melancarkan aksinya dalam menghancurkan demokrasi yang berjalan di Republik kita.

Kang Jalal juga memaparkan, apa ciri-ciri militan demokrasi dan respon kita. Pertama, militansi mengandung makna bersiap-siap. Jangan sampai kita menunggu demokrasi dirusak oleh musuh-musuh demokrasi yang intoleran dan tidak demokratis dalam memperlakukan kelompok demokratis. Kedua, adanya musuh spesifik dalam demokrasi, dengan kata lain kita harus mengindentifikasi musuh-musuh khusus dalam demokrasi yang berniat menghancurkan demokrasi.

Toleransi ada batasnya dalam demokrasi, jika tidak , maka akan terjadi kekacauan dari kelompok intoleran karena dampak toleransi yang tak terbatas. Mereka akan melemahkan toleransi. Maka, dengan latar belakang tersebut, kita harus membuat sebuah satu Konstitusi untuk tidak mentolerir kelompok-kelompok intoleran.

Ketiga, musuh-musuh demokrasi harus diwaspadai dengan langkah responsive, negara tidak boleh abai dan membiarkan aksi-aksi mereka yang berniat menhancurkan sistem demokrasi. Jangan sampai mereka menggulingkan sistem pemerintahan, dan kita hanya sekedar menunggu saja. Mereka menghancurkan struktur demokrasi dengan menyalah-gunakan hak-hak istimewa dalam demokrasi dan masyarakat luas,’pungkas Kang Jalal.[]

DINNO

Komentar

komentar