Saturday , December 16 2017
Home / Pemikiran / AMAL IBADAH HILANG KARENA MENYAKITI ORANG
21433095_10213898100905727_7573981067400718700_n

AMAL IBADAH HILANG KARENA MENYAKITI ORANG

KH. Dr. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc*

Terkadang Kanjeng Nabi Muhammad Saw memulai khutbahnya dengan bertanya. Sangat interaktif. Sekali waktu, beliau bertanya kepada jamaah majelisnya,”Tahukah kamu orang yang bangkrut, al-muflis?”

“Al-Muflis, dalam pandangan kami, adalah orang yang sudah kehilangan uang dan barang sekaligus.”

“Orang bangkrut di kalangan umatku,” Sabda Kanjeng Nabi saw,” ialah mereka yang datang pada hari kiamat dengan membawa amal-amalnya, shalat, puasa dan zakat. Kemudian berdatanganlah orang-orang yang pernah dizaliminya: ada orang pernah dikecamnya, ada yang diambil hartanya, ada yang ditumpahkan darahnya, ada yang dipukulnya. Maka, seluruh kebaikannya, seluruh pahala amal-amal baiknya, digunakan untuk membayar orang-orang yang disakitinya. Bila amal-amal baiknya sudah habis untuk menebus perilakunya yang menyakitkan, diambillah dosa-dosa orang yang disakitinya dan diletakkan ke dalam timbangan amalnya.”

Pada suatu hari, Kanjeng Nabi Muhammad Saw naik mimbar. Dengan suara nyaring, ia bersabda,” Wahai umat yang menyatakan Islam dengan lidahnya tetapi iman belum masuk ke dalam lubuk hatinya…jangan kamu sakiti orang yang beriman, jangan mempermalukan mereka, jangan membongkar aib mereka, karena siapa saja yang mencari-cari kesalahan atau membongkar aib orang lain, Allah Swt akan membongkar aibnya, Allah akan mempermalukannya, walaupun di rumahnya sendiri.”

Seorang lelaki melapor di hadapan Muhammad Sang Nabi tentang seseorang yang terkenal karena banyak shalat, puasa dan sedekahnya, tetapi ia suka menyakiti tetangganya dengan lidahnya. Nabi Muhammad Saw menjelaskan dengan singkat,” Ia di neraka.”

Dilaporkan lagi bahwa ada orang yang terkenal sedikit shalatnya, puasanya dan sedekahnya. Paling besar sedekahnya itu, karena kemiskinannya, hanyalah sepotong daging kambing. Tapi ia tidak pernah menyakiti tetangganya dengan lidahnya. Maka, Nabi Muhammad Saw bersabda,”Orang itu di surga.”

Nabi Muhammad Saw mengulang sabdanya sampai tiga kali disertai sumpah,” Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman!”

“Siapa, ya Rasululllah?”
“Tidak beriman orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannnya.”
Pada haji Wada’, haji perpisahan, di tengah-tengah padang Arafah, di depan ratusan ribu kaum Muslim yang pertama, Nabi Muhammad Saw memulai khutbah perpisahan dengan bertanya,” Tahukah kalian, hari apakah ini?”

“Hari yang suci.”
“Tahukah kalian, bulan apakah ini?”
“Bulan yang suci.”
“Tahukah kalian, negeri apakah ini?”
“Negeri yang suci.”

“Camkanlah oleh kalian bahwa kehormatan, kekayaan dan kehidupan seseorang sama sucinya dengan hari ini, bulan ini, dan negeri ini. Tidak boleh kehormatan orang dinistakan, tidak boleh kekayaan orang dihancurkan, tidak boleh darah orang ditumpahkan.”

Kanjeng Nabi Muhammad saw menggunakan “haram” untuk menunjukkan sesuatu yang suci: hari haram, bulan haram, dan tanah haram. Karena sucinya, maka haram hukumnya mencemari dan menistakan hal-hal yang suci itu.

Berikut ini penjelasan Nabi Muhamad Saw tentang haram,” Seorang mukmin adalah seperti haramnya hari ini. Kemuliaannya haram diruntuhkan dengan mempergunjingkannya. Kehormatannya haram untuk direndahkan. Mukanya haram untuk disakiti. Darahnya haram untuk ditumpahkan. Hartanya haram untuk dirampas.”

Orang yang melanggar wasiat Nabi Muhammad Saw pada hari-hari akhirnya akan kehilangan pahala semua amal shalehnya. Lebih mengerikan dari itu adalah orang zalim yang dilaknat Allah Swt.

Kanjeng Nabi Muhammad Saw bersabda,”Allah Swt mewahyukan kepadaku, wahai saudara para utusan! Wahai saudara pemberi peringatan! Wahai kepada orang-orang zalim dari kaummu agar jangan memasuki rumah-Ku dengan membawa kezaliman terhadap hamba-hamba-Ku. Aku berkewajiban untuk menyebut nama orang yang menyebut nama-Ku. Dan setiap kali orang zalim menyebut nama-Ku, Aku melaknatnya.”[]

*Cendekiawan Muslim dan Anggota DPR RI Komisi VIII.
Tulisan ini ada di buku terbaru beliau:”Jangan Bakar Taman Surgamu” yang dilaunching
dalam Seminar Al-Ghadir: Meneladani Warak dalam Kepemimpinan Imam Ali, 28 Agustus 2017 Di Gedung Pertemuan
Kompleks Rumah Jabatan DPR RI Kalibata, Jakarta.

Komentar

komentar