Monday , December 10 2018
Home / Pemikiran / ESENSI PUASA : IMSAK-‘AN DAN IMSAK–BI

ESENSI PUASA : IMSAK-‘AN DAN IMSAK–BI

ESENSI PUASA: IMSAK-‘AN DAN IMSAK–BI
Oleh KH. Dr. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc*

Pada suatu hari Rasulullah Saw mendengar seorang perempuan sedang memaki-maki jariyah (budak) kepunyaannya, padahal perempuan itu sedang berpuasa. Nabi mengambil makanan dan berkata kepadanya: “Makanlah.” Perempuan itu berkata, “Sya sedang berpuasa, Ya Rasulullah.” Kata Nabi Muhammad Saw, kemudian, “Bagaimana mungkin engkau berpuasa, padahal telah kau maki jariyah-mu (budak). Puasa bukan hanya menahan makan dan minum saja. Allah telah menjadikan puasa sebagai penghalang, selain dari makan dan minum, juga dari hal-hal yang tercela, perbuatan ata perkataan yang merusak puasa. Alangkah banyaknya orang yang lapar.” Ma aqalla ash-shawwam wa ma aktsara al-jawwa’ (sedikit betul orang yang berpuasa, dan banyak betul orang yang hanya lapar saja).

Ucapan Sang Nabi yang terakhir ini menyimpulkan perbedaan antara puasa dan melaparkan diri. Puasa, menurut definisi para ahli fiqih, adalah “menahan diri dari segala yang merusak dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah” (al-imsak ‘an al-mufthirat al-ma’hudat bi qashdi qurbah). Dalam definisi tentang shaum, ada kata al-imsak. Dalam bahasa Arab, kata dasar amsaka dapat disusul dengan ‘an atau bi. Kata Imsak ‘an berarti menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu. Imsak ‘an adalah mengendalikan diri (self-restraint). Kata imsak-bi bermakna berpegang teguh pada sesuatu yang dijadikan gantungan atau pegangan.

Dalam salah satunya do’anya Imam Ali Zainal Abidin, cucu Nabi Muhammad saw., berkata,” Wa la umsiku illa bi-hablih” (Aku tidak berpegang teguh kecuali pada tali Allah). Kadang-kadang, selain imsak bi, digunakan juga kata yang sejenis tammasuk-bi.

Hakikat puasa terletak pada imsak-‘an (menahan diri) dan imsak-bi (berpegang tegug kepada perintah Allah dan Rasul Nya). Anda dapat ber-imsak ‘an, tetapi tidak ber-imsak bi. Anda menahan diri dari makan dan minum, tetapi bukan ingin melangsingkan tubuh, mempercantik diri. Ini berarti, bahwa anda tidak berpuasa, anda sedang melakukan diet. Anda menahan diri untuk tidak mengkritik atasan anda, karena anda tidak ingin ia memarahi anda dan memecat anda. Anda menahan diri untuk menyenangkan hatinya. Begitu atasan anda turun dari jabatannya, anda akan segera melemparkan kritik anda. Dalam hal ini, anda bukan orang yang berpuasa, tetapi anda adalah penjilat.

Boleh jadi anda imsak-bi, kelihatannya seperti berpegang teguh pada al-Qur’an dan Sunnah Nabi, tetapi anda tidak imsak ‘an. Semestinya yang imsak-bi itu dengan sendirinya imsak ‘an. Kenyataannya tidak. Ada orang yang sangat keras meneriakkan kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah Nabi, tetapi keras juga dalam mengkafirkan orang yang tidak sepaham. Ia tidak dapat menahan dirinya dari menghargai pendapat orang lain. Dengan menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga tenggelam matahari, anda kelihatannya berpegang teguh pada ketentuan puasa, tetapi anda tidak menahan diri dari memfitnah, mengumpat dan memak-maki. Kata Nabi Muhammad saw, anda bukan termasuk ash-shawwam (orang yang berpuasa): Anda hanyalah termasuk al-jawwa’ (orang-orang yang lapar saja).

Tentu saja, ada yang tidak imsak-an dan tidak imsak-bi. Inilah orang yang mempertuhankan hawa nafsunya dan tidak mempunyai nilai-nilai yang membimbing hidupnya. Ia mengalami kekosongan hidup (existential vacuum). Hidupnya sama sekali tidak bermakna, seperti laying-layang yang putus talinya. Ia pergi kemana angina bertiup. Akhirnya, tentu ada juga yang mencakup keduanya, imsak ‘an dan imsak-bi. Mereka adalah orang yang benar-benar berpuasa, ash-shawwum. Mereka adalah orang-orang yang bertakwa.

IMSAK-BI

Jadi, tanda pertama orang yang bertakwa, seperti tanda ash-shawwum adalah imsak-bi. Ia mempunyai keyakinan yang dipegang teguh. Ia berusaha tegak di atas keyakinan itu. Sekali ia memutuskan sesuatu itu benar, maka ia akan mempertahankannnya dengan seluruh hidupnya. Ia tidak dapat dibeli, juga tidak dapat ditakut-takuti.

Ketika Sayyidina Abu Thalib dengan berurai air mata menyuruh Nabi Muhammad saw menghentikan dakwahnya, beliau berkata, “Wahai pamanku! Sekiranya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tak akan berhenti. Bagiku hanya satu pilihan, Allah memenangkan perjuanganku ini atau aku binasa di dalamnya.” Ketika sahabat meminta wasiat kepada Nabi Muhammad saw, beliau berkata singkat,”Nyatakan: Tuhanku Allah, dan kemudian berpegang teguhlah dalam pernyataanmu.”

“Ketahuilah,” kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib dalam menasihati para pengikutnya,” Sesungguhnya Allah membenci al-mutalawwin.” Al-mutalawwin berarti orang yang berganti-ganti warna seperti bunglon. Ia mengubah warnanya hanya karena mencari selamat. Dahulu, di zaman Yunani, ada kelompok Sophist yang melatih murid-muridnya secara unik. Mereka mula-mula ditugaskan menyusun pidato yang membela keyakinan tertentu (misalnya, Tuhan itu ada). Setelah itu, mereka disuruh menyampaikan pidato yang sebaliknya (misalnya, Tuhan itu tidak ada). Bila mereka berhasil dalam kedua-duanya, mereka lulus. Kaum sophist mendidik bunglon. Karena itu, Socrates dan Plato mengecam mereka.

Pada zaman sekarang, sikap bunglon itu sering disebut pragmatisme. Yang mendidik kita tidak lagi Gorgias, Isocrates atau kamum sophist lainnya. Pendidik kita adalah lingkungan, Kita melihat orang disisihkan karena berpegang teguh pada keyakinannya. Sementara itu, kita saksikan para pencari muka naik ke atas. Berpegang teguh pada norma-norma agama dipandang dengan cemoohan, hanya karena memakai jilbab, seorang wanita dapat dikeluarkan dari sekolahnya atau pekerjaannya. Tidak jarang, bahkan ia dipukuli. Karena ingin menegakkkan kebebasan pendapat, ia dituduh sebagai ekstrimis. Idealisme Plato telah disingkirkan oleh sophisme Gorgias.

Bersamaan dengan pragmatisme, muncul ketidakkonsistenan, tidak konsisten antara keyakinan dengan tindakan, tidak konsisten antara perbuatan dengan perkataan. Misalnya saja, anda menganjurkan orang lain hidup sederhana, sambal menumpuk kekayaan. Anda mencintai rakyat kecil, sembari menumpas sumber penghidupan mereka. Anda menganjurkan kebersihan moral, sambal melakukan skandal, atau anda menyakini perbuatan korupsi itu tercela, tetapi anda melakukannya dengan alasan yang dicari-cari.

Jadi, puasa melatih anda ber-imsak bi, mempertahankan keyakinan. Ini berarti bahwa anda melatih diri untuk menghindari kepribadian al-mutalawwin (bunglon) dan mempertahankan konsistensi. Imsak-bi adalah tanda ash-shawwam dan orang-orang yang bertakwa.

IMSAK ‘AN

Dimensi imsak-‘an (menahan diri) sudah banyak dibicarakan. Dalam Ihya’ ‘Ulumuddin, Imam al-Ghazali menyebutkan enam cara menahan diri pada waktu puasa. Pertama, menahan pandangan dan tidak mengumbarnya pada hal-hal yang menyibukkan hati, sehingga lupa kepada Allah. Kata Nabi Muhammad saw: “Pandangan itu merupakan anak panah Iblis. Barang siapa menahan pandangannya karena takut karena Allah, maka ia akan menemukan manisnya iman dalam hatinya”.

Kedua, menjaga lidah dari ucapan yang sia-sia, seperti berbohong, mengumpat, memfitnah, bertengkar dan membiasakan diam, serta menyibukkan lidah dengan zikir kepada Allah. Ketiga, menahan pendengaran dari hal-hal yang dibenci agama.” Setiap yang haram untuk dikatakan haram juga untuk didengarkan,” kata Imam Al-Ghazali. Keempat, menahan seluruh anggota tubuh yang lain dari dosa, perut dari makanan haram, tangan dari menganiaya orang lain, atau mengambil yang bukan hak, kaki dari menginjak-injak hak orang lain. Kelima, menahan diri untuk tidak makan berlebih-lebihan, walaupun dengan makanan halal. Keenam, sesudah berbuka, hendaklah selalu berada di antara cemas dan harap. Ia tidak boleh tertalu takut bahwa puasanya tidak diterima Allah, dan juga tidak terlalu yakin bahwa puasanya sudah sempurna.

Bila enam hal yang disarankan Imam Al-Ghazali itu diamalkan bukan hanya pada bulan puasa, kita akan menemukan takwa dalam realitasnya. Menarik untuk menutup tulisan ini dengan sebuah riwayat, yang juga dikisahkan oleh Imam Al-Ghazali. Pada zaman Nabi Muhammad saw, ada dua orang wanita yang sangat kepayahan dalam melakukan puasa. Mereka begitu lapar dan dahaga, hamper-hampir pingsan. Mereka meminta izin untuk berbuka. Nabi Muhammad saw menyuruh mereka auntah. Segera orang melihat kedua wanita itu memuntahkan darah dan daging busuk.

Ketika orang-orang meyaksikan peristiwa tersebut merasa heran, Nabi Muhammad saw lalu bersabda,” Mereka berpuasa dari apa yang dihalalkan oleh Allah (yakni, makan dan minum), tetapi mereka membatalkan puasanya dengan yang diharamkan oleh Allah. Mereka duduk-duduk, menggunjing kejelakan orang lain. Itulah yang mereka makan.”[]

*CENDEKIAWAN MUSLIM & ANGGOTA DPR RI
Buku Puasa Bersama Sufi, Hal.15

Komentar

komentar