Saturday , December 16 2017
Home / Pemikiran / Islam dan Islamisme
public-lecture

Islam dan Islamisme

Saat ini bangsa kita mengalami dis-harmoni, rentannya Ke-Bhinekaan dan surutnya Pancasila di tengah radikalisme agama. Perseteruan antar pemeluk agama dan madzhab di Indonesia semakin meningkat, terjadinya aksi terorisme, pengkafiran, klaim sesat, anti-pluralisme, dan ekstrimisme ISIS. Agama Islam sudah dijadikan legitimasi dalam setiap kekerasan dan aksi teror yang membunuhi manusia tak berdosa. Ujaran kebencian, ajaran kebencian sudah menjangkiti hampir semua warga, karena efek media sosial.

Situasi terkini Indonesia masih saja tak lepas dari konflik antarumat beragama. Agama, yang semestinya bersemangat pembebasan dan menebarkan kedamaian bagi sesama manusia, ternyata justru kerap memicu pertentangan, bahkan mengusik keutuhan Bhinneka Tunggal Ika. Bagaimana jalan keluarnya?

Berkobarnya radikalisme yang dibawa oleh gerakan trans-nasional Islam pasca Reformasi 1998 telah mewabah dimana-mana. Gerakan ini merentang dari puritanisme anti-budaya ke-Indonesiaan, salafi politik pengusung khilafah, hingga aksi terorisme. Kemunculan Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) telah membangkitkan sel-sel radikalisme yang mengancam keamanan publik dan civil society di Indonesia.

Inilah kiranya yang menjadi landasan pikiran dan amaliah ilmiah BEMJ (Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan) Sosiologi FISIP UIN Jakarta menyelenggarakan Public Lecture (14/04/2016) dengan Tema: Semangat Agama Publik Dalam Membangun Civil Society. Acara tersebut menghadirkan pembicara:

  1. Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat (Cendekiawan Muslim)
  2. Dr. A. Rumadi MA, (Ketua Lakpesdam PBNU & Penulis Buku Hubungan Antar Ummat Beragama)
  3. Veri Mukhlis Ariefuzaman (Konsultan Politik)

Dalam paparannya yang berkesan di hadapan audiens civitas academika UIN Syarif Hidayatullah, Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat menyampaikan tentang kisah anak manusia yang bernama Maajid Nawaz saat di Inggris. Sebuah perjalanan dalam hidupnya dari Islamist Ekstrim yang kemudian “bertaubat”, Islamist yang ingin membangun dunia dan membereskan problem manusia dan dunia berdasarkan Khilafah Islamiyyah. Karena, baginya Islam adalah solusi bagi semua masalah kehidupan dunia di tengah modernitas dan sistem thoghut (berhala).

Nawaz membangun sel-sel pergerakan dari di Negeri Eropa dan Timur-Tengah untuk membebaskan manusia berdasarkan rujukan dari masa lalu yakni Khilafah Islamiyyah. Nawaz Born and raised in Essex, was recruited into politicised Islam as a teenager. Abandoning his love of hip hop music, graffiti and girls, he was recruited into Hizb ut-Tahrir (the Liberation Party) where he played a leading and international role in the shaping and dissemination of an aggressive anti-West narrative. While studying for his Arabic and law degree, he travelled around the UK and to Denmark and Pakistan, setting up new cells.

Maajid Nawaz mengalami lika-liku kehidupan, yang akhirnya dipenjara di Mesir, dan keluar dari Hizbut Tahrir (HT) sebagai gerakan Islam Trans-nasional yang mencita-citakan negara Islam atau Khilafah Islamiyyah. Dia kemudian mendedikasikan hidupnya dalam sebuah buku berjudul RADICAL: My Journey from Islamist Extremism to a Democratic Awakening.

ISLAM, ISLAMISME

Dalam kesempatan itu pula, Kang Jalal yang juga Anggota DPR RI Komisi VIII menyampaikan tentang perbedaan “Islam” dan “Islamisme”. Pemisahan ini mengacu pada karya Bassam Tibi berjudul “Islamism and Islam”. “Islam” ujar Kang Jalal adalah agama, sedangkan Islamisme berarti regionalisasi politik atau pengagamaan politik”. Menurutnya, apa yang dilakukan oleh kalangan ektrimis adalah Islamisme, bukan Islam. Tibbi, pemikir Islam yang bermukim di Jerman mengatakan situasi dunia saat ini mengalami apa yang disebutnya Benturan Antara Fundamentalisme dan Akal Sehat.

Bassam Tibi, a senior scholar of Islamic politics, provides a corrective to this dangerous gap in our understanding. He explores the true nature of contemporary Islamism and the essential ways in which it differs from the religious faith of Islam.

Menurut Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat, Tibi describes Islamism as a political ideology based on a reinvented version of Islamic law. The reinvention of jihadism as terrorism, the invented tradition of shari’a law as constitutional order, and the Islamists’ confusion of the concepts of authenticity and cultural purity. Tibi’s also concluding chapter to identify Islamism as a totalitarian ideology.

PIKIRAN ISLAM MADANI

Bagaimana agama memberikan kontribusi kepada masyarakat dan negara, kepada nilai-nilai sosial yang positif dalam kehidupan. Kang Jalal menawarkan jalan kebaikan itu sebagai  Islam Madani, tipologi keberislaman yang pluralis, inklusif, fokusnya pada isu-isu kemanusiaan, dan orientasi keberagamaannya intrinsik, lebih pada memperbaiki diri sendiri dan cinta kasih. Mengajarkan nilai-nilai moral universal dan hubungannya dengan negara adalah mendukung nation state.

Islam Madani adalah pemahaman Islam yang mendukung negara bangsa, Pancasila, mendukung NKRI. Pemikiran cerdas tersebut diinspirasi oleh pemikir, filsuf kelahiran Swiss, Jean Jacques Rousseau, yang hidup pada zaman Revolusi Perancis (abad ke-18 Masehi). Ketika menceritakan ide kontrak sosial, Rousseau menyebut la religion civile (agama civil), sebagai pemahaman yang paling relevan bagi kehidupan modern.

Kang Jalal juga menyampaikan kekagumannya terhadap pendiri Indonesia yakni Bung Karno yang telah berhasil mendirikan Kebangsaan nation-state of Indonesia ala Ernest Renan. Indonesia yang berdasarkan Pancasila yang menaungi semua warna dan gagasan. Sekaligus beliau saat ini sedang menyelesaikan sebuah buku barunya berjudul Islam, Nasionalisme dan Sekulerisme yang akan dipersembahkan dalam rangka Kelahiran Pancasila, 1 Juni.

Akhirnya, Indonesia sebagai negeri Muslim demokratik terbesar di dunia. Kewaspadaan para pemimpinnya untuk membangkitkan Islam Madani dipertaruhkan. Perbedaan pendapat harusnya dihargai dan dibela mati-matian sebagaimana harapan Voltaire, jika tidak, Indonesia akan menjadi medan intoleransi dan radikalisme di tengah falsafah Pancasila yang sedang karam saat audiens bertanya kepada Kang Jalal. Tapi beliau menjawab dengan lugas, sambil memberikan apresiasi positif kepada civitas academika UIN Syarif Hidayatullah yang menyelenggarakan Kuliah umum yang berlangsung di auditorium FISIP ini, berlangsung semarak dan para mahasiswa juga semangat yang masih konsisten mengkaji diskursus pemikiran di tengah serbuan media sosial yang berefek negatif. Menurut Kang Jalal, Pancasila masih sangat relevan dan kompatibel untuk menjawab krisis kebangsaan, ajaran kebencian, dan negatifitas manusia. Kita semua harus mempertahankan Pancasila, gagasan terbesar Bung Karno.[]

(Dinno)

 

 

 

 

Komentar

komentar