Wednesday , January 17 2018
Home / Pemikiran / Negara Ini Dikendalikan oleh Segelintir Orang Kaya
safe_image

Negara Ini Dikendalikan oleh Segelintir Orang Kaya

Cendekiawan muslim Jalaluddin Rakhmat atau Kang Jalal dalam diskusi budaya ‘Revolusi Mental Dari Ali Hingga Jokowi’ di Kampus Universitas Paramadina 15 Oktober 2014 mengutip pernyataan filosof Aristoteles, membagi kekuasaan dalam konteks negara menjadi tiga model.

Dikatakan Kang Jalal, kekuasaan pertama bertumpu pada satu orang. Kekuasaan seperti ini dipegang seorang raja. Keadilan atau kezaliman yang ada di dalam negara tersebut bergantung pada raja. Jika sang raja zalim maka pemerintahannya menjadi tiran.

Kekuasaan model kedua adalah kekuasaan oligarki atau kekuasaan yang dijalankan oleh segelintir orang. Kekuasaan seperti ini jika dipegang oleh pedagang maka negara akan dijual, dan jika dipegang oleh militer maka negara akan diseret-seret ke dalam peperangan.

“Kekuasaan oligarki menjadi baik jika dipegang para filosof karena negara dijalankan dengan kebijaksanaan,” ujar Kang Jalal.

Kekuasaan ketiga, menurut Kang Jalal mengutip pernyataan Aristoteles adalah kekuasaan demokrasi atau kekuasaan yang dijalankan oleh rakyat.

“Kekuasan di Indonesia yang dijalankan saat ini bukanlah kekuasaan demokrasi, tapi adalah kekuasaan oligarki. Negara ini dikendalikan oleh segelintir orang kaya. Mereka yang ada di parlemen merupakan wayang yang dikendalikan oleh sang dalang,” ujarnya.

Sementara itu dosen filsafat Universitas Paramadina, Subhi Ibrahim, ketika menyinggung revolusi mental dalam sistem demokrasi, setiap orang diberi hak untuk berbicara.

“Revolusi mental menjadi urgen manakala pembangunan tidak saja menyentuh level institusionalnya saja, akan tetapi juga menyentuh manusianya,” papar Subhi dihadapan ratusan peserta yang hadir.

Menurut Subhi, kondisi saat ini yang sedang carut marut sudah saatnya melakukan perubahan. “Perubahan menjadi kolosal ketika dilakukan di level civil society, yang mana masyarakat sadar tentang perlunya perubahan,” ujar Subhi.

Akan tetapi, lanjut Subhi, permasalahannya tidak setiap rakyat sadar bahwa dirinya sedang tidak diuntungkan oleh sistem. Hal inilah yang membuat perubahan tidak terjadi.

Sambil mengutip pernyataan cendekiawan muslim Iran, Ali Syariati, ketidaksadaran masyarakat bisa dibangunkan manakala ada aktor yang menyadarkannya.

Diskusi budaya itu memenuhi ruangan Aula Nurcholis Madjid Universitas Paramadina Jakarta. Suasana diskusi terlihat hidup di mana banyak peserta yang ingin bertanya kepada pembicara. Sayangnya waktu yang disediakan oleh panitia tidak cukup untuk melayani semuanya.**

Sumber: satuislam.org

Komentar

komentar