Thursday , September 20 2018
Home / Pemikiran / TELADANILAH SENYUMAN MUHAMMAD SANG NABI
14690905_10210709344788817_2418130842906134751_n-1

TELADANILAH SENYUMAN MUHAMMAD SANG NABI

Pada Rabu, 19 Oktober 2016, Cendekiawan Muslim terkemuka, anggota DPR RI Komisi VIII sekaligus anggota Baleg (Badan Legislasi), Bapak Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc menyampaikan paparannya terkait The Golden Rule, Etika Reciprocity (Etika Balas-Membalas). Bagaimana nilai-nilai kebaikan sesama manusia diajarkan kepada anak didik melalui guru-guru.

Kang Jalal hadir dalam pertemuan baik tersebut, atas undangan civitas academika Sekolah Al-Izhar, Pondok Labu, Jakarta. Dalam sesi paparannya yang berjudul Senyuman Muhammad Sang Nabi, Kang Jalal yang akrab disapa, membaca puisinya Sa’di [Penyair Muslim abad ke-12] yang terkenal, dipahat sebagai hiasan di pintu masuk gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat:

“Bani Adam adalah anggota tubuh yang sama,
Dahulu di langit, mereka diciptakan dari zat yang sama.

Jika satu anggota ditimpa derita,
Anggota yang lain pasti berduka

Jika kau tak rasakan derita sesama,
Tak pantas kau disebut manusia ”

Sebuah puisi yang sangat menyentuh hati, di tengah dunia yang waktu itu dirundung peperangan dan di saat itulah PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) didirikan.

Hal itulah yang keren dari Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat, yang juga memaparkan Hadist No. 13 dari Imam Nawawi Banten dalam Syarah Arbain (40 Hadist). Bagaimana mencipta jadi manusia?. Dengan amal shalehlah kita jadi manusia. Ikut berempatilah atas penderitaan sesama, maka kita layak disebut manusia. Jangan sampai kita meniadakan kemanusiaan sesama, tak layak kita disebut manusia.

Rasulullah Saw bersabda,” Belum beriman kamu, sebelum mencintai saudaranya seperti mencintai dirimu sendiri”. Ciri orang mukmin adalah mencintai sesama manusia. Kita mesti berkasih sayang dengan semua manusia tanpa melihat perbedaan agama, madzhab, suku dan ras.

Kang Jalal sebelumnya menyampaikan pertemuan tokoh-tokoh agama dunia yang membahas Etika Global, nilai-nilai kebaikan universal dalam menciptakan dunia yang lebih baik. Warna-warni ajaran nilai kebaikan dari filsuf besar Aristoteles, Hans Kung, Martin Buber, Yesus, Budha, Immanuel Kant, Kearifan Jawa-Sunda dan Imam Ali Karomallahu Wajhah saat detik-detik terakhir wafatnya beliau, dibunuh di Mihrab Masjid. Beliau paparkan ajaran kebaikan dari semua tokoh besar dunia yang jadi hikmah sejarah untuk kehidupan kita, meniti hari demi hari.

Kang Jalal juga memaparkan juga Charter for Compassion (Sebuah ikatan berdasarkan kasih sayang) dari Karen Armstrong,” Look into your own heart discover what it is that gives you pain and then refuse, under any circumstance whatsoever, to inflict that pain on anybody else”.

Berbuat baiklah tanpa melihat identitas agama, madzhab atau ras suku. Semoga amal shalehmu jadi jalan keselamatanmu di akherat kelak,’ ucap Cendekiawan Muslim kelahiran Jawa Barat.

Sebagaimana kisah Ulama’ besar dari Irak yang selamat, bukan dari 100 jilid kitab yang ditulisya, bukan perannya jadi Imam Masjid Besar. Akan tetapi, karena Ulama’ itu memberikan buah apel kepada anak kecil Yahudi di lorong gelap kota Bahgdad bersama ibunya.

Ajaran kebaikan itulah yang disampaikannya di depan ratusan guru-guru di Sekolah Al-Izhar Pondok Labu, Jakarta. Pelajaran penting yang jadi bekal mengajar & mendidik putera-puteri Bangsa agar menjadi generasi toleran, empati dan beradab di tengah banjir bandang globalisasi yang melahirkan kekerasan atas nama agama dan radikalisme teroris, yang merusak harmoni Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila.

Ala kulli hal, beliau menyampaikan dengan khidmat, agar kita semua berkomitmen dalam hidup untuk meneladani senyuman Muhammad Sang Nabi saat kekasih Allah itu dihina, dilemparin sampah kotor oleh orang yang membencinya berkali-kali. Akankah kita meninggalkan Sunnah mulia dari putra Sayyidah Aminah as?.

Sang Nabi membalasnya dengan cinta kasih dan senyuman yang indah, menjenguknya saat pelempar sampah kotor itu sedang terbaring sakit. Sungguh teladan dari akhlak mulia Sang Nabi, yang harus kita teladani.

Wa ma taufiqi illa billahi ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unib.[]

NB. Untuk ceramah lengkapnya Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc di Sekolah Al-Izhar
bisa hubungi: 089624041816

Komentar

komentar