Saturday , December 16 2017
Home / Pemikiran / UBAHLAH TAKDIRMU PADA MALAM QADAR
art_176928

UBAHLAH TAKDIRMU PADA MALAM QADAR

KH. Dr. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc*

Saya memulai kegiatan hari ini sekitar jam empat sore dengan menghadiri majelis ilmu di Bank Indonesia. Majelis ilmu ini diakhiri dengan acara buka puasa bersama yang dihadiri: lebih dari seribu fakir miskin. Selesai shalat maghrib, yang kemudian saya jamak dengan shalat Isya’, dalam perjalanan meninggalkan Masjid BI (Singkatan dari Baitul Ihsan), saya dibekali dengan tiga bungkus nasi, yang tidak saya makan, yang konon dipesan dari khatering khusus.

Begitu saya masuk ke dalam mobil, tiba-tiba saya didatangi oleh tiga orang fakir miskin. Mereka mengatakan kalau mereka tidak kebagian makanan. Jadi, nasi bungkus itu, saya berikan kepada ketiganya. Saya bercerita ini bukan untuk menunjukkan riya’, tetapi ada “peristiwa hebat” sesudah itu.

Dalam perjalanan pulang, dari Jakarta menuju Bandung, malam itu turun hujan lebat, kami pun harus merayap karena lalu lintas sangat padat. Sopir saya termasuk sopir yang sangat pemberani untuk mengejar waktu agar bisa sampai ke tempat tujuan. Pada suatu tempat, kita menyusul satu deret truk. Pada saat bersamaan, dari arah depan ada mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Saya membayangkan waktu seakan-akan berhenti berputar dan dunia mendadak tidak berputar. Saya pikir sebentar lagi akan terjadi tabrakan yang sangat keras. Namun apa yang terjadi, Alhamdulillah waktu berjalan kembali, jam berdetak kembali, dunia berputar kembali dan saya masih hidup.

Lalu saya katakan kepada sopir saya, bahwa kita diselamatkan oleh sedekah yang kita berikan kepada fakir miskin. Bukankah Kanjeng Nabi Muhammad saw pernah bersabda,” Tolaklah bala bencana dengan sedekah.” Dalam hadist lain disebutkan pula,” Bersedekahlah kamu, karena sedekah itu menolak kamu dari bencana, (bukan saja bencana di akherat, tetapi juga bencana di dunia ini).”

Penolakan bencana yang seharusnya menimpa kita karena sedekah dalam agama disebut sebagai al-bada’. Al-Bada’ adalah perubahan takdir Allah karena perilaku yang kita kerjakan. Allah Ta’ala sudah menetapkan bahwa Nabi Ibrahim as harus menyembelih Ismail, tetapi Allah menggantikan Ismail dengan seekor kambing. Itulah al-bada. Seringkali, di dalam hidup, Allah menyelamatkan kita dari bencana yang seharusnya menimpa karena perbuatan yang kita kerjakan.

Di antara do’a-do’a pada malam Qadar adalah,” Ya Allah, aku bermohon kepada Mu di malam yang penuh berkah ini pada malam qadar di antara Qadha dan ketentuan yang akan Engkau tetapkan….”. Kita mohonkan agar Allah Ta’ala berikan kepada kita qadha dan qadar yang tidak dapat diubah lagi.

Kita mohon agar qadha itu diubah pada malam Qadar ini. Diubah dengan qadha yang lebih baik. Dalam do’a ini saya bacakan salah satu do’a malam Qadar,” Ya Allah jadikanlah pada apa yang telah Engkau tentukan dan Engkau takdirkan berupa perkara yang tidak bisa dirubah, dan di antara urusan yang Engkau pisah-pisahkan dengan bijaksana pada malam Qadar berupa Qadha yang tidak ditolak dan tidak diganti.

Tuliskanlah aku termasuk orang, yang berhaji menuju rumah Mu yang suci pada tahun ini, yang hajinya mabrur, yang pada segala pekerjaannya Engkau berikan pahala, yang diampuni segala dosa-dosanya, yang dihapuskan dengan kejelekannya. Dan jadikanlah, pada apa yang telah Engkau tentukan dan Engkau takdirkan: Engkau panjangkan usiaku dan Engkau luaskan rezekiku.” Itu do’a pada malam Qadar.

Selain do’a, yang bisa mengubah takdir buruk menjadi takdir baik adalah sedekah. Boleh jadi, peristiwa yang saya ceritakan itu adalah salah satu contoh betapa sedekah bisa mengubah takdir buruk menjadi takdir baik. Karena itu, salah satu amalan yang sangat dianjurkan pada malam Qadar adalah bersedekah. Seperti kita ketahui, malaikat turun pada malam Qadar untuk menyaksikan dua amal yang hanya dilakukan oleh manusia di bumi dan tidak pernah dilakukan malaikat di langit. Amal pertama adalah rintihan para pendosa yang menyesali kesalahan-kesalahannya. Amal yang kedua adalah berbagi rezeki dengan orang fakir miskin.

Kembali lagi pada perjalanan dari Jakarta, saya saksikan kendaraan macet dan di tengah-tengah hujan lebat di Purwakarta, saya melihat pedagang kerupuk asongan masih berteriak-teriak menjajakan dagangannya. Kerupuknya, kalau kata keluarga saya,”kurupuk sangsara”, kerupuk yang tidak digoreng tapi dibakar. Bersyukurlah kita yang masih bisa menjalankan ibadah pada malam Qadar.

Kita masih beruntung masih bisa mengisi malam terakhir Lailatul Qadar di masjid bersama-sama, mengisinya dengan iktikaf, do’a, zikir dan shalat. Orang-orang yang bisa mengisi malam Qadar ini adalah kelompok minoritas, kelompok kecil. Kelompok paling besar hari ini, khususnya di Indonesia, adalah orang-orang yang bertarung untuk bisa mempertahankan hidup. Orang yang meninggalkan rumahnya, terkadang tidak sempat beribadah demi untuk mempertahankan hidupnya. Sesulit apapun kita, kita masih beruntung punya kesempatan untuk beribadah kepada Allah Ta’ala.

Saya mendengar kisah yang mengharukan dari teman-teman di Jakarta. Pada malam yang lalu, katanya mereka pergi ke daerah Grogol mengantarkan makanan sahur khusus kepada fakir miskin yang berada di kolong jembatan. Pengantarnya, seorang anak muda, membawa seratus nasi bungkus kesana. Walaupun dia masih muda, tampaknya ia takut juga masuk ke tempat yang pengap dan gelap. Karena takut, paket makanan itu ia simpan saja di mulut kolong jembatan.

Tiba-tiba dari dalam kardus itu berlompatan orang-orang, mereka saling berebut makanan. Ternyata, ia pergi ke tempat lain dengan mengambil jatahnya. Masih saja orang pada berebut. Peristiwa itu terjadi di Jakarta, di bawah gedung-gedung bertingkat tinggi. Di bawah jembatan masih ada saudara-saudara kita yang pada penghujung malam, ketika ada nasi yang dibawakan mereka sontak terbangun dari tidurnya. Mereka ini adalah orang-orang yang tidak sempat Tarawih di masjid, tidak sempat mengisi malam-malam Qadar, tidak sempat mengkhatamkan al-Qur’an, tidak sempat berbuka puasa bersama keluarga dan tidak sempat mempersiapkan makanan yang manis-manis untuk berbuka.

Bahkan, tidak sempat menggerutu ketika pada waktu maghrib tidak menemukan makanan. Orang-orang seperti ini pun, di Indonesia jumlahnya ada jutaan. Mereka berebut makanan karena mereka lapar. Kalau kenyang, tidak mungkin mereka menganggu tidurnya untuk mengambil makanan. Kalau kita tidak begitu lapar, kita tidak akan segera menyambut makanan yang disodorkan kepada kita.

Berkaitan dengan orang-orang yang nasibnya lebih malang daripada kita, ada sebuah do’a yang sangat menyentuh hati. Do’a ini dianjurkan untuk dibaca pada waktu malam Qadar. Namanya al-Jausyan Al-Saghir.

“ Tuhanku, alangkah banyaknya hamba Mu memasuki pagi dan petang yang berada diambang kematian dengan dada yang berguncang kecemasan. Mereka menyaksikan pemandangan yang mengerikan, sehingga hati mereka dalam ketakutan. Sedangkan kami, sekarang dalam keadaan sehat sejahtera, terlepas dari semua kesulitan. Bagi Mu segala puji duhai Penguasa yang tak terkalahkan. Duhai penyabar yang tak segera menjatuhkan hukuman. Curahkan kesejahteraan kepada Nabi Muhammad saw dan keluarganya.

Jadikanlah hamba termasuk orang-orang yang selalu bersyukur atas nikmat Mu dan selalu mengenang anugerah Mu.

Tuhanku, junjungan hatiku, betapa banyak hamba Mu yang pada waktu pagi dan petang, dalam keadaan fakir, miskin, telanjang, dengan pakaian compang-camping, lapar dan dahaga, menunggu orang yang berbelas kasihan kepadanya. Betapa banyak pula hamba Mu yang mulia di hadapan Mu ketimbang diriku, yang lebih banyak beribadah kepada Mu, tetapi ia berada dalam keadaan tertindas memikul beban beratnya penghambaan, ditimpa bencana keras yang tak sanggup ia tanggung kecuali dengan bantuan Mu.

Sedangkan aku sekarang, dipenuhi anugerah Mu, disehatkan dan dikarunia keselamatan, diselamatkan dari semuanya itu. Bagi Mu segala pujian duhai Penguasa yang tak terkalahkan. Duhai penyabar yang tak segera menjatuhkan hukuman. Curahkan kesejahteraan kepada Nabi Muhammad saw dan keluarganya. Jadikanlah aku termasuk orang yang selalu bersyukur atas nikmat Mu dan selalu mengenang anugerah Mu Ya Allah.”

Mensyukuri anugerah Allah termasuk salah satu cara untuk “mempengaruhi” Tuhan agar menambah nikmat Nya kepada kita. Syukur akan mengubah anugerah dari baik menjadi lebih baik. Sebaliknya, maksiat mengubah anugera menjadi musibah dan karunia menjadi bencana.

Dalam sebuah hadis qudsi, Allah Ta’ala berfirman,” Ahli syukur akan memperoleh tambahan anugerah Ku. Ahli taat akan mendapatkan anugerah Ku. Ahli maksiat tidak akan Aku putuskan harapannya pada diri Ku. Jika ia bertobat, Aku akan menjadi kekasihnya, Aku akan menjadi pengobatnya. Aku akan menguji ia dengan berbagai ujian untuk mensucikannnya dari segala kejelekannya.”

Firman ini menunjukkan bahwa takdir ditetapkan Allah bersama amal usaha manusia juga. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ibn ‘Abbas disebutkan,” Kehati-hatian tidak dapat mengubah takdir, akan tetapi do’a dapat mengubahnya.”

Pada malam Qadar secara spesifik, dalam do’a kita, kita memohon agar Allah menetapkan Qadar yang baik bagi kita, kita memohon agar Allah menetapkan Qadar yang baik bagi kita, antara lain: dituliskan sebagai orang yang haji, diluaskan rezekinya, dipanjangan usia. Permintaan itu kita sampaikan pada malam Qadar.

Para mufasir menyebutkan tiga makna Lailatul Qadar. Pertama, Qadr artinya kemuliaan derajat dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah Ta’ala. Lailatul Qadar menjadi malam yang mulia, kata al-Fakhrurazi, dalam tafsirnya karena fa’il dan fi’il, karena pelaku dan apa yang dilakukan. Orang yang melakukan ibadah dan amal shaleh pada malam ini akan menjadi orang yang mulia dan ketaatan yang dilakukan pada malam ini juga memiliki nilai yang sangat tinggi di hadapan Allah Ta’ala.

Kedua, Qadr berarti juga sempit. Disebut “Lailatul Qadar sebab sempitnya bumi karena diturunkannya malaikat” (Tafsir Mizan, 20:331). Ketiga, qadr berarti qadar, ketentuan ilahi dalam kehidupan manusia. “Inilah malam ketika Allah menentukan takdir semua peristiwa dalam tahun tersebut, hidup dan mati, suka dan duka, tenang dan damai dan lain-lain.

Tampaknya, dari semua makna, makna ketiga inilah yang paling dekat dengan firman Allah sebagaimana yang terungkap dalam Surat ad-Dukhan ayat 4-5,”Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutusnya (rasul-rasul),” (Tafsir Min Wahy Qur’an 24:350).

Jadi mengikuti Sayyid Husain Fadlullah, marilah kita perbaiki takdir kita pada malam perubahan takdir ini dengan amal-amal shaleh kita. Sampaikan do’a-do’a yang mengubah kenikmatan (tughayyitun ni’am) dan dosa-dosa yang menurunkan bencana (tunzilun niqam), lalu perbanyaklah bersedekah karena sedekah menolakkan bencana dari kita dan mengantarkan do’a-do’a kita ke hadirat Allah.” Kepada Allah naik do’a-do’a yang baik dan amal shaleh yang mengangkatnya,” (QS.Al-Fathir 35:10).

Lailatul Qadar adalah malam mengubah qadar. Inilah Lailatul Bada’, malam al-Bada’. Ubahlah takdirmu dengan do’a dan amal shalehmu, dengan ora et labora!

*CENDEKIAWAN MUSLIM & ANGGOTA DPR RI PDI-PERJUANGAN
BUKU JALAN RAHMAT: Mengetuk Pintu Tuhan, Hal. 334-340

Komentar

komentar